Senin, 06 April 2009

Pemasaangan Guedel

PEMASANGAN GUEDEL

A. PENGERTIAN

Guedel adalah alat bantu jalan nafas untuk menahan pangkal lidah dari dinding belakang faring. Alat ini berguna pada pasien yang msih bernafas spontan atau saat dilakukan ventilasi dengan sungkup dan bagging dimana tanpa disadari penolong menekan dagu ke bawah sehingga jalan nafas tersumbat. Alat ini juga membantu saat dilakukan penghisapan lender (suction) dan mencegah pasien menggigit pipa endotrakeal (ETT).

B. TUJUAN

1. Untuk menahan pangkal lidah dari dinding belakang faring/ membuka epiglottis.

2. Alat ini juga membantu saat dilakukan penghisapan lender (suction) dan mencegah pasien menggigit pipa endotrakeal (ETT).

3. Memcegah lidah jatuh

C. INDIKASI

1. Pasien yang mengalami penurunan kesadaran

2. Pasien kejang

3. Pasien setelah general anestesi

D. KONTRA INDIKASI

1. Cara pemasangan yang tidak tepat dapat mendorong lidah ke belakang atau apabila ukuran terlalu panjang epiglottis akan tertekan menutup rimaglotis sehinggga jalan nafas akan tersumbat.

2. Hindarkan terjepitnya lidah dan bibir antara gigi dan alat

3. Jangan gunakan alat ini pada pasien dimana reflek faring masih ada karena dapat menyebabkan muntah dan spasme laring.

E. PROSEDUR PEMASANGAN

A. Alat

1. Guedel

2. Perlak dan pengalas

3. Sarung tangan

B. Tahap Pra Interaksi

1. Melakukan pengecekan program terangi

2. Mencuci tangan

3. Membawa alat di dekat pasien dengan benar

C. Tahap Orientasi

1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik

2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien

3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

D. Tahap Kerja

1. Membaca basmalah

2. Bersihkan mulut dan faring dari segala kotoran

3. Masukan alat dengan ujung menghadap ke chefalad

Saat alat didorong masuk mendekati dinding belakang faring, alat diputar 180

4. Ukuran alat dan penempatan yang tepat menghasilkan bunyi nafas yang nyaring pada auskultasi paru saat dilakukan ventilasi

5. Pertahankan posisi kepala yang tepat setelah alat terpasang

E. Tahap Terminasi

1. Membaca hamdalah, melakukan evaluasi tindakan

2. Berpamitan dengan klien

3. Membereskan alat-alat

4. Mencuci tangan

5. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan


SUCTION

A. PENGERTIAN

Penghisapan lendir (suction) merupakan tindakan keperawataan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu mengeluarkan secret atau lender secara mandiri dengan menggunakan alat penghisap.

B. TUJUAN

Untuk membantu membebaskan jalan nafas pada klien yang tidak mampu mengeluarkan cairan/ secret secara mandiri.

C. INDIKASI

1. Pasien yang mengalami penurunan kesadaran

2. Bayi baru lahir

D. PROSEDUR PEMASANGAN

A. Alat

1. Bak instrument berisi : pinset anatomis 2, kasa secukupnya

2. NaCl atau air matang

3. Kanul suction

4. Perlak/ alas

5. Mesin suction

6. Kertas tissue

7. Sarung tangan

B. Tahap Pra Interaksi

1. Melakukan pengecekan program terangi

2. Mencuci tangan

3. Membawa alat di dekat pasien dengan benar

C. Tahap Orientasi

1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik

2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien

3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

D. Tahap Kerja

1. Membaca basmalah, memberikan posisi yang nyaman kepada pasien, kepala sedikit ekstensi

2. Memberikan oksigen 2-5 menit

3. Memasang alas/ perlak di bawah dagu pasien

4. Memakai sarung tangan

5. Menghidupkan mesin, mengecek tekanan dan botol penampung

6. Memasukan kanul suction dengan hati-hati (hidung : ± 5 cm, mulut : ± 10 cm)

7. Menghisap lender dengan menutup lubang kanul, menarik keluar perlahan sambil memutar (± 5 detik untuk anak, ±10 detik untuk dewasa)

8. Membilas kanul dengan NaCl, berikan kesempatan klien untuk bernafas

9. Mengobservasi keadaan umum pasien dan status pernafasannya

10. Mengobservasi secret tentang warna, bau, dan volumenya

E. Tahap Terminasi

1. Membaca hamdalah, melakukan evaluasi tindakan

2. Berpamitan dengan klien

3. Membereskan alat-alat

4. Mencuci tangan

5. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

WATER SEAL DRAINAGE

A. PENGERTIAN

Water Seal Drainage (WSD) adalah Suatu sistem drainage yang menggunakan water seal untuk mengalirkan udara atau cairan dari cavum pleura ( rongga pleura).

B. TUJUAN

· Mengalirkan / drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut

· Dalam keadaan normal rongga pleura memiliki tekanan negatif dan hanya terisi sedikit cairan pleura / lubrican.

C. INDIKASI PEMASANGAN

· Hemotoraks, efusi pleura

· Pneumotoraks ( > 25 % )

· Profilaksis pada pasien trauma dada yang akan dirujuk

· Flail chest yang membutuhkan pemasangan ventilator

D. KONTRA INDIKASI

· Infeksi pada tempat pemasangan

· Gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol.

E. MACAM WSD


1. WSD dengan satu botol

· Merupakan sistem drainage yang sangat sederhana

· Botol berfungsi selain sebagai water seal juga berfungsi sebagai botol penampung.

· Drainage berdasarkan adanya grafitasi.

· Umumnya digunakan pada pneumotoraks

2. WSD dengan dua botol

· Botol pertama sebagai penampung / drainase

· Botol kedua sebagai water seal

· Keuntungannya adalah water seal tetap pada satu level.

· Dapat dihubungkan sengan suction control

3. WSD dengan 3 botol

· Botol pertama sebagai penampung / drainase

· Botol kedua sebagai water seal

· Botol ke tiga sebagai suction kontrol, tekanan dikontrol dengan manometer.

F. PROSEDUR PEMASANGAN

A. Tahap Pra Interaksi

1. Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada

2. Mencuci tangan

3. Membawa alat di dekat pasien dengan benar

B. Tahap Orientasi

1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik

2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien

3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

C. Tahap Kerja

1. Membaca basmalah

2. Tentukan tempat pemasangan, biasanya pada sela iga ke IV dan V, di linea aksillaris anterior dan media.

3. Lakukan analgesia / anestesia pada tempat yang telah ditentukan.

4. Buat insisi kulit dan sub kutis searah dengan pinggir iga, perdalam sampai muskulus interkostalis.

5. Masukkan Kelly klemp melalui pleura parietalis kemudian dilebarkan. Masukkan jari melalui lubang tersebut untuk memastikan sudah sampai rongga pleura / menyentuh paru.

6. Masukkan selang ( chest tube ) melalui lubang yang telah dibuat dengan menggunakan Kelly forceps

7. Selang ( Chest tube ) yang telah terpasang, difiksasi dengan jahitan ke dinding dada

8. Selang ( chest tube ) disambung ke WSD yang telah disiapkan.

9. Foto X- rays dada untuk menilai posisi selang yang telah dimasukkan.

D. Tahap Terminasi

1. Membaca hamdalah

2. Merapikan pasien

3. Berpamitan dengan klien

4. Membereskan alat-alat

5. Mencuci tangan

6. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar